Part 2 Cerpen Timer Waktu, Sang Pemberi Makna

Timer Waktu, Sang Pemberi Makna part 2





Seorang gadis duduk termenung di dalam kamarnya, ia menatap lurus ke depan. Ke arah bunga-bunga yang memanjakan matanya. Suara langkah kaki membuatnya segera menoleh ke belakang. Teman dekat Nona, yang semula tampak sumringah kini raut wajahnya berubah saat bertatapan langsung dengan Nona. 


“Kenapa Dis?” tanya Nona lirih. 


Adis melepas pelukan seraya menggeleng pelan. Ia berbalik membuka lemarinya, meraih tas ransel dan meletakkannya di atas kasur.  


“Kamu mau kemana Dis?”


Adis menoleh sembari tersenyum tipis ke arah Nona. “Nanti kamu juga tau Na.” Adis menggendong tas ranselnya, melangkah pelan keluar kamar. Nona mengikuti langkah Adis hingga ke depan pintu rumah. Di sana terlihat Ibu panti yang sedang mengobrol dengan tamu-tamunya tadi. 


Mendengar ada yang mendekat, wanita berambut pendek itu menoleh serata tersenyum. “Sini sayang.” 


“Baik-baik di rumah yang baru ya …” ujar ibu panti sambil mengelus pelan kepala gadis dengan rambut panjang yang dibiarkan tergerai tertiup angin itu. 


Adis berbalik dan berlari memeluk Nona. Setetes air mata turun melewati pipi tembemnya. “Makasih udah jadi temen baik aku Na. Aku mau ke rumah yang baru, kalo aku kangen nanti aku ke sini lagi.” 


Setetes air mata kini juga turut membasahi pipi Nona. Ia memeluk erat tubuh Adis. “Bahagia di rumah yang baru ya Dis.” Nona perlahan melepas pelukannya. 


Adis berjalan mundur seraya melambaikan tangannya. Nona menghapus air matanya, ia berusaha untuk tersenyum. Adis berbalik badan, ia terlihat menyalami ibu panti. Wanita itu tampak menggenggam tangan Kiri Adis. Mereka berjalan keluar dari rumah. Adis menoleh kebelakang sebelum akhirnya tampak jauh hingga hilang dari pandangan. 


“Sepi.” Nona berjalan lesu ke luar rumah. Ia menatap ayunan yang ada di bawah pohon besar di samping kiri rumah. “Teman aku cuma Adis. Sekarang sama siapa?” lirihnya, Nona menunduk melihat rerumputan hijau yang ada di bawahnya. 














Seminggu berlalu setelah Adis keluar dari panti asuhan. Setiap waktu Nona habiskan sendirian, ia tak akrab dengan siapapun yang ada di panti. Namun hari ini, anak kecil itu kembali berkunjung ke Panti. Ia hanya melihat mereka bermain kembali dengan anak kecil itu. Nona duduk sendirian di pojok ruangan, ia tidak tau harus melakukan apa. 


Nona memutuskan untuk melihat bunga-bunga yang bermekaran di samping rumah. Tanaman-tanaman itu ditanam dan dirawat oleh ibu panti. Nona memetik salah satu bunga yang ada disana. Memutarnya pelan dengan jari telunjuk dan ibu jarinya. “Cantik.” 


Nona berbalik. Ia dikejutkan oleh seseorang dengan pakaian overall jumpsuit warna coklat yang berdiri di depannya. Seseorang yang sedang tersenyum sambil menyodorkan satu permen. “Kata Mommy, aku gak boleh makan permen.” 


“Buat aku?” Nona menunjuk dirinya sendiri. Anak itu mengangguk tanpa menghilangkan senyuman nya. Nona meraih permen yang ada di tangan anak itu. “Makasih ya … nama kamu siapa?” tanya Nona lembut seraya mengusap kepala anak itu. 


“Joy.” 


“Tadi kakak lihat kamu main sama kakak-kakak yang ada di dalam. Kenapa keluar?” 


“Aku lihat kakak sendirian, jadi aku ke sini.” 


Nona tersenyum hangat seraya mengusap pelan pipi anak yang 6 tahun lebih muda darinya itu. “Kakak juga punya sesuatu buat Joy.” Nona menyibakkan rambut ke belakang telinga anak itu, ia memasangkan bunga warna merah yang baru saja dipetiknya. “Sekarang kamu lebih cantik.” 


Mereka menghabiskan waktu bersama di samping rumah itu. Nona mengajak Joy untuk melihat-lihat berbagai bunga yang ada di sana. Joy tampak tersenyum lebar. Mereka menghabiskan waktu bersama. Seminggu sekali Joy mengunjungi panti asuhan itu. 


6 bulan berlalu dan kini mereka sedang menghabiskan waktu di taman yang tak jauh dari panti asuhan berada. 


Tampak dua anak perempuan yang terpaut beberapa tahun usia. Mereka bermain ayunan yang ada di taman itu. Tertawa bersama dan saling berbagi camilan. 


"Ayo Joy! Kita lihat-lihat bunga," ajak seorang gadis terlihat lebih dewasa. 


Gadis kecil yang satunya itu mengangguk senang. Mereka bergandengan tangan, berjalan mengelilingi taman, melihat setiap bunga yang indah dengan kupu-kupu yang berada disekelilingnya. 


Saat sedang melihat salah satu bunga, gadis kecil itu tiba-tiba saja berlari. "Ayo kak!Kejar aku!" 


"JOY ..." Gadis itu tampak menggeleng pelan. Ia kemudian bergegas mengejarnya. 


Mereka berlarian hingga gadis kecil itu terjatuh. "Aduh ..."


Gadis yang mengejarnya tampak menghentikan langkahnya. "Joy!" Ia bergegas menghampiri gadis kecil itu. 


"Kamu gak apa-apa?" tanya gadis itu dengan khawatir. 


"Sakit ..." rintih gadis kecil itu yang hendak menangis. 


Nona melihat sebuah luka pada lutut Joy. Ia hendak menggendongnya. "Ayo naik ke punggung kakak. Kakak akan meminta ibu panti untuk mengobati kamu." 


Joy kemudian naik ke punggung gadis itu. Mereka pergi menuju ke sebuah panti asuhan yang letaknya tak jauh dari taman. 











Mereka duduk di ruang tamu, Nona duduk di sofa single sedangkan di samping kirinya terlihat ibu panti yang sedang mengobati luka Joy. 


“Sudah selesai …” Ibu panti menutup kotak P3K yang ia bawa. Tangan kanannya menggelus pelan kepala Joy. Tak lama kemudian seorang wanita berjalan masuk dengan senyuman di wajahnya. 


“Assalamualaikum, Bu.” Wanita itu mengangguk pelan. 


“Wa'alaikumussalam, Bu Joanna.” Ibu panti berdiri, meletakkan kotak itu ke atas meja. Ia menyalami wanita yang dipanggil Joanna itu. 


“Saya ingin menjemput Joy Bu, maaf sudah merepotkan anda.” 


Ibu panti menggeleng pelan. “Sama sekali tidak Bu.” 


“Saya sekalian izin pamit ya Bu karena hari ini adalah hari terakhir saya mengunjungi panti ini. Minggu depan saya sudah harus pulang ke rumah suami saya.” 


Nona tampak terpaku setelah mendengar ucapan Joanna. Ia diam beralih menatap Joy yang kini sedang tersenyum padanya. 


“Joy ayo kita pulang.” 












Nona lebih banyak melamun akhir-akhir ini. Ia merasa kesepian. Nona menatap ayunan di luar dari jendela kamarnya. Ia tersenyum kecut. “Biasanya, hari ini Joy berkunjung ke panti. Kapan ya, aku bisa ketemu dia lagi”


Tahun demi tahun berlalu kini Nona telah menginjak kelas 3 SMP. Sepulang dari sekolah ia disambut oleh ibu panti dengan seorang laki-laki yang berada di sampingnya. Laki-laki itu tiba-tiba saja memeluk tubuhnya. “Putriku ternyata tumbuh cantik.” 


Matanya terbelalak mendengar pernyataan dari laki-laki asing ini. Nona bergegas melepas pelukan itu. “Apa maksud bapak?” 


“Nona, ini Pak Yanuar. Ayah kandung kamu. Beliau mencari kamu selama bertahun-tahun, beliau menunjukkan foto saat kamu bayi. Dan ternyata kain yang ada di foto itu sama persis dengan kain yang kami gunakan saat seseorang menyerahkan kamu ke panti ini.” 


Nona mengalihkan pandangannya ke arah laki-laki itu dan bergantian melihat ke arah ibu panti. Nona menatap ragu ke arah ini panti. Ia tampak mengangguk pelan.


“Ini Papa nak … nama asli kamu Liona. Nama yang Mama kamu kasih, dan kain itu adalah kain yang dijahit sendiri oleh Mama kamu sebelum kita mengalami kecelakaan dan kamu hilang. Dan Mama kamu … meninggal.” 


Nona tak bisa menahan bulir air matanya untuk jatuh ia segera memeluk laki-laki itu dengan erat. 


Hari ini adalah hari yang bahagia sekaligus sedih untuk Nona karena harus meninggalkan panti asuhan yang menemaninya sejak kecil. Nona memeluk erat ibu panti dan berpamitan kepada teman-teman yang ada di panti asuhan. Ia pergi menaiki mobil yang akan membawanya ke rumah barunya. 



Bagaimana part 2 nya?? Penasaran gak menuju part 3 cerita ini … 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen Timer Waktu, Sang Pemberi Makna