Part 4 Cerpen Timer Waktu
Tiap langkah yang terasa berat, kilasan itu muncul. Mengenang apa yang telah terjadi sebelumnya. Awan gelap berarak di langit biru, menyembunyikan cahaya yang ditunggu. Matanya sayu, tak ada lagi yang menunggu. Tak ada lagi yang menemani di sela-sela waktu. Tak ada lagi rumah untuk pulang. Langkah itu membawanya keluar dari gerbang pemakaman. Semua terasa kosong.
Suara teriakan memanggil namanya, membuat langkah itu perlahan berhenti. Kepalanya menoleh sedikit, matanya berusaha melirik seseorang yang memanggilnya dari belakang. Terdengar suara langkah cepat yang mendekat. Ia perlahan berbalik. Seorang anak yang kini duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar menghampirinya, memeluknya erat. Liona terdiam, ia menundukkan kepalanya. Tangannya mulai terangkat mengusap pelan puncak kepala anak itu.
“Joy …”
“Kakak pulang sama aku ya,” pintanya sembari melepas pelukan.
Liona menggeleng pelan, “Nanti gimana sama keluarga kamu?”
Terdengar sahutan Joanna yang berjalan menghampiri mereka. Joanna juga meminta Liona untuk tinggal di rumah mereka. Liona menolaknya, ia tidak ingin merepotkan keluarga mereka. Joanna menerima keputusan Liona, ia meminta Liona untuk berkomunikasi dengannya jika membutuhkan sesuatu. Liona menganggukkan kepalanya, ia berpamitan kepada Joanna. Ia hendak kembali ke rumahnya, sebelum ia pergi. Liona sempat mengusap puncak kepala Joy. Ia lalu melangkah pergi dari sana.
Langkah itu membawanya ke depan gerbang rumahnya, pikirannya kembali tertuju pada saat pertama kali dia datang ke tempat ini. Tepat satu tahun yang lalu. Ia perlahan memasuki rumah. Ia menatap lama ke arah ruang tamu. Tawa papanya masih terngiang-ngiang di telinganya.
“Non Liona …” panggil seseorang.
Liona mengalihkan pandangannya pada seseorang yang lebih tua dari papanya. Wanita yang telah lama bekerja dengan papanya. “Bibi …” ucapnya lirih yang terdengar gemetar. Matanya mulai berkaca-kaca.
Wanita itu bergegas menghampiri anak majikannya. Liona memeluknya erat. Ia meluapkan semua yang dirasakannya. Setelah keadaannya mulai sedikit lebih tenang, mereka duduk di sofa. Liona ingat, setiap pagi di hari Minggu papanya selalu meminta dibuatkan segelas kopi hitam sembari membaca korannya. Terkadang, papanya menghabiskan waktu untuk berjalan kaki bersamanya. Sekedar menikmati udara pagi.
Ia menyandarkan kepalanya di bahu wanita itu, seseorang yang ia panggil Bi Ratih. Wanita itu menceritakan bahwa papanya, Yanuar meninggalkan tabungan yang cukup banyak. Ia juga menceritakan semua biaya sekolah Liona juga sudah lunas. Sedangkan di sisi lain, Liona diam mendengarkan, ia tak menyangka papanya sudah mempersiapkan semuanya. Untuk dirinya. Hatinya terasa memiliki luka yang tengah terbuka.
Waktu tak akan berhenti. Hanya waktu yang bisa menutup luka di diri seseorang. Liona mulai menerima semuanya, ia berusaha ikhlas. Ia tak sendirian, ada bi Ratih yang selalu menemaninya. Ada Joy yang sering main ke rumahnya saat hari libur tiba. Liona memfokuskan dirinya untuk belajar.
Saat pulang sekolah menaiki angkutan umum, Liona tanpa sengaja melihat sekelompok orang di lapangan terbuka. Sebagian duduk bersila di atas rerumputan, menyaksikan dua orang yang saling menyerang, memukul, menangkis dan menghindari pukulan lawannya.
Sesampainya di rumah, pikirannya melayang-layang pada apa yang ia saksikan tadi, komunitas beladiri. Liona duduk di kursi dekat meja belajarnya. Ia menatap satu buku di depannya. Ia membuka buku, melewati halaman yang telah penuh, berhenti pada halaman kosong. Tangannya terulur mengambil pena dan mengukirkan tiap kata yang ada di buku diary nya.
Setelah papa pergi, aku tak bisa bergantung pada siapapun di dunia ini kecuali diriku sendiri. Hidup ini tak seindah apa yang terlihat, sementara semuanya tak bersifat selamanya. Hidup ini keras, seandainya jika papa tak memikirkan semuanya sejauh ini mungkin aku akan berusaha lebih keras dari sekarang. Mulai sekarang dan nanti, aku harus bisa mengandalkan diriku sendiri. Karena pada kenyataannya, aku sendirian sekarang. Tapi aku masih memiliki Allah, aku juga masih memiliki ibu panti, dan bi Ratih. Aku masih ada Joy.
Tanpa sengaja aku menyaksikan mereka berlatih seni beladiri, aku ingin bisa menguasainya. Aku harus bisa mandiri, menjaga diriku sendiri dan melindungi orang yang aku sayangi …
ⴵ
Di hari-hari berikutnya, Liona benar-benar mendaftarkan dirinya untuk mengikuti komunitas beladiri, melalui bantuan Joanna. Ia menghabiskan waktunya, belajar serius di sekolah. Kembalinya dari sana, ia memfokuskan diri untuk mempelajari seni beladiri. Hingga 2 tahun berlalu, Liona lulus dari jenjang SMA.
Ia memutuskan untuk bekerja. Mulanya Liona bekerja di warung-warung makan hingga hari ini ia bekerja di sebuah cafe yang berdiri tak terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Cafe Cemara, tempat kerjanya saat ini.
Liona berdiri di tepi jalan, membagikan brosur pada orang-orang yang melintas, entah itu pada mereka yang berjalan kaki maupun menaiki kendaraan. Topi hitam bertengger di kepalanya, hingga satu mobil melintas dan berhenti di depan Liona. Pintu depan terbuka, menampakkan seorang gadis dengan seragam biru putih yang turun menghampirinya.
“Joy?”
“Kak Liona.” Wajahnya tampak berseri-seri.
“Kamu ngapain di sini?”
“Aku mau nemenin kakak.” Senyuman manis di wajahnya membuat Liona lebih bersemangat. Ia tak menyangka akan bertemu Joy di sini.
“Kakak bagiin selebaran apa? Boleh aku bantu.”
Liona menganggukkan kepalanya, ia menyerahkan sebagian pada Joy. Mereka kembali membagikan brosur-brosur itu. Joy yang baru saja menyerahkan brosur tersebut pada seseorang pun terkejut, ia terdiam. Seseorang memakaikannya topi hitam. Matanya melirik ke arah topi hitam yang kini bertengger di kepalanya.
"Biar gak kepanasan," ujar perempuan berambut panjang lurus.
"Makasih kakak yang baik."
"Kakak tau kok, kalo kakak itu baik." Perempuan itu menepuk pelan gadis di sebelah kirinya.
"Iya deh.”
Dibawah terik matahari, Keduanya tampak memegang banyak selebaran. Memberikan selebaran itu pada setiap jiwa yang berjalan di sekitarnya. Mengundang mereka ke cafe tempat perempuan itu bekerja.
ⴵ
Selama Liona bekerja, ia juga terus belajar agar mendapatkan beasiswa di universitas nantinya. Selain itu ia juga terus mengasah kemampuan bela dirinya. Membeli alat yang ia butuhkan di rumah dan mulai membuka kelas privat. Ia menyebarkannya melalui media sosialnya.
Tepat pada tanggal 19 April, Liona pergi ke rumah Joy. Membawa sebuah kado yang ia sembunyikan di dalam tasnya. Memasuki halaman rumah. Suasana keributan pelan menyambutnya. Di dekat pos satpam, berdiri Joy dan kakaknya.
“Gak perlu peduli sama aku, ini karena kamu ya! Mama marah sama aku gara-gara kamu Joy.” Nada tinggi terdengar dari mulut laki-laki itu. Tangannya bergerak mendorong Joy dan membuatnya tersungkur.
Matanya melebar melihat apa yang terjadi. “Joy …” lirihnya. Liona bergegas menghampiri Joy dan membantunya berdiri. Ia berbalik menatap tajam ke arah laki-laki yang bernama Aaron itu.
“Bisa, gak main tangan sama perempuan!”
“Gak perlu ikut campur!” Aaron melayangkan tangannya.
Liona menahan tangan itu. “Kamu mau pukul aku?” Liona memegang erat pergelangan tangannya. “Apa perlu, aku kasih tau mama kamu?”
Aaron menyentakkan tangannya. Matanya menatap tajam ke arah Joy. Ia melenggang pergi dari sana.
“Kamu gak apa-apa?” tanya Liona menatap ke arah Joy.
Joy menganggukkan kepalanya dan tersenyum. “Makasih kak.”
Liona mengangguk sekali, ia mengusap lembut puncak kepala gadis di depannya. “Kakak punya sesuatu buat kamu.”
Joy memiringkan kepalanya sedikit. “Apa kak?”
Liona tersenyum, ia mengambil sesuatu di dalam tasnya. Sebuah kado yang dibungkus dengan rapi memakai kertas kado warna cokelat.
“Ini buat aku …”
Liona tersenyum tipis. “Selamat ulang tahun, adik kesayangan kakak.”
Joy memeluk Liona, ia mempererat pelukannya. “Makasih kak karena selalu ada buat Joy.”
Setelah itu, Liona mengajak Joy untuk bermain ke rumah. Ia meminta Joy berpamitan dengan ibunya dulu. Joy menganggukkan kepalanya. Liona memilih untuk menunggu di luar saja. Beberapa saat menunggu, Joy kembali keluar. Mereka kemudian pergi dari sana.
ⴵ
Sekitar 2 tahun berlalu, Liona membuka kelas bela diri dengan jangkauan lebih luas. Ia meminta beberapa orang temannya dulu untuk mengajarkan ilmunya di sana. Cukup lumayan jumlah yang mengikuti kelas itu, karena biaya yang dikenakan terjangkau.
Ia sampai sekarang masih bekerja di cafe itu. Beberapa bulan yang lalu, Liona diminta untuk bertemu dengan si pemilik cafe yang ternyata adalah teman papanya. Dulu, Liona sempat melihat laki-laki itu bertakziah di rumah saat papanya meninggal. Laki-laki pemilik cafe sangat baik padanya. Ia bercerita bahwa dulu orang tua Liona banyak membantu usahanya. Ia hendak memberikan cafe itu pada Liona karena ia tak memiliki seorang anak. Namun Liona menolak. Ia merasa tak pantas menerima itu.
Hari ini Liona berada di cafe. Ia melayani tiap pelanggan yang hadir di sana. Liona menghampiri satu meja dengan seorang gadis berseragam putih abu-abu, ia memberikan menu cafe.
“Makasih kak Liona.”
Liona terdiam, ia mendongakkan kepalanya. Matanya melebar, ia lalu mengerutkan keningnya. “Joy?”
Joy hanya tersenyum menampakkan deretan gigi putihnya. “Aku mau caramel macchiato hangat, dua.”
“Baik, ditunggu ya kak.” Liona mengangguk sekali dan pergi dari sana.
Joy hanya tertawa kecil. Ia menunggu sampai akhirnya Liona kembali dengan nampan berisi dua gelas kopi. “Ini pesanannya.” Liona meletakkannya di atas meja. “Dua kopi buat siapa? Kamu sendiri yang habisin?”
Joy menggelengkan kepalanya. Ia beranjak dari tempat duduknya dan menarik kursi lainnya. “Silahkan duduk, kak.” Joy menarik tangan Lioba dan memaksanya untuk duduk.
“Eh …”
Joy meraih sebuah bag paper yang ia sembunyikan tadi di samping kirinya. Ia meletakkannya di atas meja. Sebuah kue dilapisi krim putih dengan beberapa stroberi sebagai hiasannya. “Selamat ulang tahun, kakak kesayangan Joy.” Joy tersenyum manis, sorot matanya terpancar sebuah ketulusan yang dapat Liona lihat dan ia rasakan.
Liona tersenyum tipis, ia merasa tersentuh dan tak menyangka Joy akan memberinya kejutan seperti ini. Tangannya terulur menepuk pelan puncak kepala gadis di depannya ini. “Makasih, Joy. Kakak gak tau mau bilang apa lagi. Kakak senang kamu di sini. Sekali lagi, makasih, adik kesayangan kakak.”
Joy tersenyum. “Sama-sama, kakak.”
“Joy, kakak mau bilang sesuatu sama kamu.”
“Ada apa kak?” Joy sedikit mendekatkan dirinya, wajahnya tampak penasaran.
Liona menceritakan tentang dirinya yang akan menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Ia menyampaikan bahwa dirinya telah mendapatkan beasiswa di universitas luar negeri. Setelah apa yang ia usahakan selama ini. Joy tampak senang, namun dari sorot matanya menampakkan hal lain. Liona tersenyum tipis sembari mengalihkan pembicaraan mereka. Joy menanyakan tentang keadaan kelas bela dirinya jika kakaknya itu pergi.
“Mungkin kakak akan bicara sama teman-teman kakak dulu.”
Gimana part 4 nya? Continue to the last part!

Komentar
Posting Komentar