Last Part, Cerpen Timer Waktu
Hari demi hari berlalu, hingga tibalah saat Liona untuk pergi ke luar negeri. Di bandara, Liona berterima kasih pada Joanna karena telah membantunya selama ini. Joanna memberikan sejumlah uang, Liona menolak namun wanita yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri itu tetap memaksanya. Setelah itu, Liona berpamitan pada Joy, mereka sempat berpelukan. Joy meminta Liona untuk sering-sering menghubunginya.
Di Belanda, di sanalah Liona menempuh pendidikannya, mendapatkan beasiswa. Beradaptasi di negeri orang, sendirian. Mencari tempat tinggal, hingga mendapatkan teman. Selama 3 tahun Liona habiskan di negara tersebut. Ia akhirnya memutuskan kembali di waktu liburnya. Di sela-sela itu, Liona berencana untuk memberikan Joy hadiah, di hari ulang tahun yang terlewat pada tahun-tahun sebelumnya.
Selama waktu itu, Liona sering menghabiskan waktu bersama Joy. Membujuknya untuk berlatih bela diri. Liona ingin Joy bisa menjaga dirinya sendiri. Kini gadis berambut hitam kuncir kuda merangkul gadis berseragam putih abu-abu yang berada di sampingnya.
"Beberapa bulan lagi kamu akan Lulus SMA ..."
"Itu masih lama kak ..."
"Waktu itu cepat berlalu Joy, sebentar lagi kakak akan kembali ke luar negeri."
"Kakak harap kamu mau belajar bela diri." Perempuan itu mengukir senyum di wajahnya. "Kakak akan selalu mengawasi kamu dari jauh.”
Hari terakhir Liona liburan, ia berencana memberikan kejutan untuk Joy, setelah beberapa waktu lalu ia pergi untuk membelikan hadiah dari tabungan peninggalan papanya. Sesuatu itu dikirim saat Joy berada di rumahnya. Liona telah menghubungi Joanna untuk memastikan bahwa Joy tidak akan tau sesuatu itu berada di halaman rumahnya. Liona memberikan pesan pada Joy, mengatakan bahwa ia kecelakaan.
Pintu depan tiba-tiba terbuka, suara langkah yang terdengar cepat membuat Liona yang kini berdiri di samping mobil Jeep warna putih, tersenyum lebar.
“Surprise!”
Joy terdengar menghela napasnya. “Kakak bohongin aku …”
"Cuma itu satu-satunya cara supaya kamu bisa keluar rumah."
"Itu, mobil kakak?" Joy berjalan pelan mendekati perempuan yang lebih tua darinya itu.
Perempuan di hadapan Joy itu menggeleng pelan. "Itu hadiah buat kamu, selamat ulang tahun Joy Nara."
"Kakak gak bercanda kan?" tanya Joy yang masih tidak percaya.
"Sejak kapan kakak bercanda soal hadiah ulang tahun kamu." Gadis itu tersenyum tipis. "Kakak harap kamu terima hadiah ini."
"Aku gak bisa terima kak." Joy menggelengkan kepalanya.
"Joy, kakak pengen kamu terima hadiah ini. Cuma ini yang bisa kakak kasih buat kamu, sebelum kakak pergi ke luar negeri untuk kuliah. Kakak gak tau, apa nantinya kakak akan bisa kasih kado buat kamu."
Joy terdiam sejenak. "Kakak gak perlu kasih aku hadiah seperti ini karena hal yang paling berarti untuk aku, jika kakak masih di sini."
"Kakak ingin selalu ada untuk kamu tapi kakak gak selamanya ada di dekat kamu Joy. Kakak ingin bisa mengembangkan usaha yang udah kakak bangun saat ini dengan ilmu yang nantinya kakak dapat dari kuliah. Kakak melakukan ini karena kamu Joy, hanya kamu yang kakak punya. Kakak hanya ingin kamu bahagia." Gadis itu mengusap puncak kepala seseorang yang seperti adik kandungnya.
Tanpa ragu, Joy memeluk gadis di hadapannya itu. Perempuan itu terdiam, ia membalas pelukan hangat itu dan mengusap lembut punggung Joy.
“Ya, walaupun kamu belum ulang tahun. Tapi ini untuk hadiah ulang tahun kamu yang terlewat.”
Mereka masih berpelukan erat. Joy kemudian berujar pelan, “Seperti yang aku bilang, kehadiran kakak adalah kado terindah buat aku.”
Mereka melepaskan pelukan itu perlahan. Liona menoleh sebentar ke arah mobil itu dan kembali menatap Joy. “Gimana kalau kita coba mobilnya.” Liona tersenyum tipis.
Joy mengangguk semangat. Mereka kemudian memasuki mobil. Liona sebelumnya telah belajar menyetir mobil dari temannya. Kini mobil bergerak perlahan keluar gerbang rumah. Khusus untuk hari itu, Liona menghabiskan waktunya bersama Joy, berkeliling hingga membeli makanan atau minuman dari pedagang kaki lima. Sampai akhirnya waktu sore tiba. Mereka kembali ke halaman rumah. Joy turun dari mobil terlebih dahulu. Liona sempat terdiam sejenak. Ia kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah kertas putih yang terlipat rapi. Liona memasukkannya ke laci dashboard mobil.
“Kakak harap, kamu bisa segera membacanya Joy …”
Malam tiba, kala itu Liona diminta oleh Joy untuk menginap di rumah khusus untuk malam ini saja sebelum besok Liona akan kembali ke Belanda. Liona disambut hangat oleh Joanna, ia tidur di kamar Joy.
Secepat itu waktu berlalu, matahari kembali menampakkan dirinya. Seperti tiga tahun yang lalu. Joy dan Joanna mengantarkannya ke bandara. Sebelum pergi, Joy memeluk Liona dalam waktu cukup lama. Setelah berpamitan, Liona pergi ke pesawat yang akan dinaikinya.
“1 tahun lagi, ini akan selesai.” Liona mengangguk semangat, ukiran tampak menghiasi wajahnya.
โดต
Liona menghabiskan waktunya untuk fokus belajar, mengerjakan tugas dan lebih banyak berinteraksi pada teman-teman internasionalnya, terutama pada temannya yang berasal dari negara tersebut. Liona mencari pengalaman dengan bekerja paruh waktu, selain itu ia juga mengumpulkan sampah-sampah botol yang akan ia tukarkan nantinya menjadi uang, walaupun tidak semua jenis botol bisa ditukarkan melalui mesin yang ada di supermarket tersebut.
Liona menyibukkan kegiatannya di luar, menaiki sepeda untuk pergi ke kampusnya. Saat hari libur tiba ia memilih untuk jalan-jalan di taman setelah selesai bekerja paruh waktu. Terkadang ia juga menyempatkan waktu untuk menghubungi Joy. Kegiatan itu Liona lakukan hingga masa Liona menempuh pendidikannya telah selesai.
Liona kembali ke negaranya, ia sengaja tidak menghubungi Joy. Ia ingin memberikan kejutan untuk adiknya itu. Liona tiba sekitar pukul 7 malam hari. Ia memesan taksi untuk pergi ke daerah tempat tinggalnya. Sebelum tiba, Liona menyempatkan waktu untuk mampir ke cafe, tempatnya dulu bekerja. Ia ingin membelikan sesuatu yang ada di cafe itu, makanan dan minuman favorit Joy.
Taksi berhenti di seberang jalan, Liona turun.Ia melihat kanan kirinya, sebelum berjalan menuju cafe. Pandangannya terhenti pada seseorang yang baru saja keluar dari cafe itu. Senyuman di wajahnya mengembang ketika melihat Joy. Liona mengangkat tangannya, menggerakkannya ke kiri dan kanan berulang kali. Ia kembali melihat sekitar, memastikan tak ada mobil yang melintas di jalanan yang terlihat sepi itu.
Di pertengahan jalan, dari kejauhan sebuah cahaya dengan cepat bergerak mendekati Liona. Ia dengan cepat menoleh.
Brakk!!!
Tubuhnya terhempas, menghantam aspal. Sayup-sayup ia mendengar suara yang memanggil namanya. Matanya mulai tak sanggup untuk terbuka. Semuanya gelap.
Perlahan, ia mendengar suara. Ia berusaha membuka matanya. Titik-titik air yang menyentuh kulitnya terasa dingin. Napasnya terasa berat, kepalanya seperti dihantam batu beberapa kali. Liona melihat wajah yang kini matanya telah memerah, disertai darah yang telah menjadi noda di baju putihnya.
“J-Joy.” Perlahan ia mengangkat tangan kanannya. Ia merasa hal kecil itu kini terasa sulit untuk dilakukan. Usahanya tak sia-sia. Ia berhasil menyentuh pipinya. Liona menggelengkan kepalanya pelan. Liona mengukir senyuman di wajahnya yang tak lagi bersih. Dadanya terasa sesak, ketika melihat air mata yang tak berhenti turun di wajah Joy.
Timer yang telah diatur kini telah mencapai batas akhirnya. Waktu telah habis, takdir yang akan membawanya kembali. Helaan napas yang terasa semakin berat, mata yang mulai terpejam. Tangan yang tak lagi sanggup untuk terangkat. Liona merasa bahagia bisa melihat wajah itu untuk terakhir kalinya.
TAMAT
“Tak seorangpun mengetahui batas waktu yang telah diatur. Timer itu akan berakhir. Dimana? Kapan? Bagaimana? Akan selalu menjadi diakhiri tanda tanya, tak akan ada yang mampu menjawabnya.” - Nala
Terima kasih telah membaca cerita ini. Kunjungi juga cerita Joy di dalam novel Ghost : A Mystery !!!
Klik kata berwarna biru diatas untuk mengetahui sekilas tentang novelnya!!

Komentar
Posting Komentar