Menyusup ke Pabrik Lama — Spesial Chapter of Ghost : A Mystery


 


Aku Januar, mengambil langkah nekat yaitu menyusup ke dalam perusahaan yang memiliki indikasi dibangun dari perjanjian dengan makhluk. Resiko yang aku ambil sebanding dengan hasil yang aku dapatkan, sejumlah uang yang cukup besar nilainya. Aku dibawah perintah Aldelardo Wilson, namun aku tak sendirian. Ada satu orang yang menemaniku, Bayu. Kami berhasil masuk ke dalam PT Wiratama Furniture. Kami ditempatkan di bagian produksi furniture.

Bos kami memberikan informasi mengenai perusahaan tersebut. Masalah yang terjadi serta apa yang harus kami cari di tempat itu. Beberapa hal yang aku tangkap, kami diminta untuk mencari kejadian janggal yang terjadi di perusahaan tersebut. Pusat perusahaan Wiratama dipindah ke Jakarta, sementara pabrik lamanya tetap di daerah Jawa Barat. 

Kini aku berada di area bangunan pabrik yang sangat luas, seragam merah serta celana hitam aku kenakan. Walaupun masker telah aku pakai, namun tetap saja bau kayu yang sangat khas masih bisa menembusnya. 

Suara mesin bersahutan memenuhi, lapisan-lapisan kecil kayu tercecer di lantai. Sebenarnya, aku ditempatkan untuk mengambil bahan baku. Aku hanya diajak berkeliling untuk mengenal tempat ini. 

Bayu, dia ditempatkan dibagian pemotongan material. Proses setelah bahan baku diambil dari hutan yang katanya milik perusahaan sendiri. Ada satu hal yang cukup menarik perhatianku saat itu. Mereka semua bekerja dengan sangat fokus, tak ada senyuman, tak ada suara lain melainkan hanya dengungan mesin. Hal itu semakin aku sadari saat jam istirahat tiba, sikap mereka masih sama. Obrolan hanya sebatas urusan kepentingan pekerjaan. Selain itu tak ada. 

Aku memutuskan untuk beristirahat di warteg terdekat. Sembari menunggu kedatangan Bayu, aku memutuskan untuk membeli es teh manis. Siang-siang seperti itu benar-benar terasa sangat segar. 

Tak lama Bayu hadir, dia duduk di sampingku. Ia terlebih dahulu memesan minuman jeruk dingin dan memesan makanannya. Saat minumannya datang, Bayu mengaduk-aduk minumannya menggunakan sedotan. 

“Situasinya benar-benar canggung, mereka pisah sama urusan masing-masing. Lo juga kayak gitu gak War?” tanyanya sambil melihat ke arahku.

“Sama aja bro …” Aku mengangguk-anggukkan kepala. 

“Kalo gak kita yang buka pembicaraan, gak akan dapat tuh informasi.” Dari sudut mataku, Bayu masih mengaduk-aduk minumannya. Kemudian ia baru mulai meminumnya.

“Gue kira juga gak akan separah ini situasinya.” 

Hari pertama kerja telah berakhir dengan aku memejamkan mata di kamar kost. Hari berikutnya tiba, aku berdiri ditengah-tengah rimbunan pohon-pohon. Posisi kayu telah tersusun rapi, aku hanya perlu membantu untuk menjalankan truk, mengangkutnya ke pabrik produksi. 

Dari yang aku amati, kebun milik perusahaan hanya skala kecil, sementara sewaktu aku berkeliling kemarin, banyak sekali kayu yang dibutuhkan. Kemungkinan perusahaan mengimpor sisa kayu yang dibutuhkan. 

Hari itu, aku ditemani oleh salah satu senior yang ada di sana. Aku sempat menyapanya sebentar, menanyakan namanya. Laki-laki yang menemaniku bernama pak Bakri. Tampak berusia sekitar hampir 40 an. 

“Bapak sudah berapa lama kerja di sini?” tanyaku sembari mengemudikan truk. 

“Sekitar 5 tahunan,” jawab laki-laki berkumis itu singkat. 

Aku merasa kebingungan mencari topik pembicaraan, cara menjawabnya yang terdengar datar membuat semuanya terasa sangat canggung. 

“Wah, sudah cukup lumayan lama ya pak …,” jawabku diikuti dengan tawa ringan. 

“Iya,” jawabnya singkat. Laki-laki itu terdengar menghela napasnya. “Kalau kerja fokus ya, jangan memikirkan hal lain apalagi urusan diluar pekerjaan.”

Aku mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ah iya, baik pak.” 


Hari itu kembali berakhir. Rasanya terasa berat, apalagi berusaha mengenal seseorang yang menutup dirinya untuk orang lain.

Pagi tiba, dan hari itu berlalu seperti biasanya. Masih belum ada seorangpun yang dapat aku kenal sepenuhnya. Semuanya terasa hanya hubungan profesionalitas antara sesama karyawan di perusahaan. 

Hari-hari berlalu seperti biasanya, namun aku merasa ada yang berbeda pada hari itu. Langit tampak gelap, namun tak seorangpun menghentikan aktivitasnya. Mereka berusaha bekerja cepat untuk menyelesaikan target pada hari itu. Di saat aku hendak menuju truk, suara jeritan terdengar menggema, terasa memenuhi hutan. 

Langkah kakiku terhenti, perlahan aku menoleh ke belakang. Aku bisa melihat orang-orang berlarian menuju kembali ke kedalaman. Aku bergegas mengikuti mereka. Dari kejauhan aku bisa melihat kerumunan di dekat pohon besar yang menjulang tinggi. Bisik-bisik mulai terdengar kembali. Beberapa dari mereka terlihat menjauh setelah mengetahui apa yang terjadi. 

Aku berjalan mendekat, tanganku terangkat ke depan berusaha menembus kerumunan. Cukup sulit untuk aku bisa melihat, kerumunan itu terasa sesak. Dengan usahaku, aku berhasil berada di antara mereka, walaupun bukan di posisi yang paling depan tapi bisa menangkap kondisi yang terjadi dibalik kerumunan itu cukup membuatku sedikit lega. 

Aku perhatikan lebih jelas, ada warna merah pekat. Bau besi terasa tajam. Aku tercengang saat melihat tusukan kayu memanjang, menembus tubuh seseorang. Wajah karyawan itu tak dapat aku kenali, kemungkinan karena aku belum hapal siapa saja yang terlibat di bagian produksi. 

Beberapa orang tiba-tiba saja datang menembus kerumunan itu dengan paksa. Mereka membawa korban pergi dengan segera. Bisik-bisik terdengar. Pandanganku tertuju ke sekeliling, mencari orang yang akhir-akhir ini aku berusaha gali informasi nya. Namun aku kesulitan untuk menemukannya. 

Aku memutuskan untuk berjalan pergi, menelusuri jalan setapak yang akan membawaku kembali ke truk. Di tengah perjalanan aku tanpa sengaja melihat dia, pak Bakri. Diam menyendiri di salah satu dibalik pepohonan. 

Alisnya terlihat bertaut, mulutnya terkatup rapat. Aku berhenti sejenak. Bersembunyi dibalik pohon agar ia tak menyadari keberadaanku. Aku menebak bahwa fokus beliau masih tertuju pada kerumunan itu.

Aku berkeinginan untuk menyapanya namun, aku merasa mungkin ia akan terganggu. Hal itu membuat aku mengurungkan niat. Aku memutuskan untuk terus berjalan. 

Namun instingku tak berhenti sampai di sana. Otakku seolah meminta untuk melihat ke arah pak Bakri kembali. Aku menoleh. Mataku menangkap sebatang kayu yang tumbang dari atas. 

“Awas Pak!!” teriakku, berlari menghampiri laki-laki yang lebih tua itu. 

Dengan segera aku menarik tangannya. Tepat satu detik setelah itu, kayu menghantam tanah. Aku bisa mendengar napas pak Bakri yang terengah-engah. Sepertinya ia juga tercengang dengan apa yang aku lakukan. 

“A-apa yang–”

Aku segera melepaskan tanganku kemudian menunduk. “Maaf pak, saya–”

“Enggak nak, terima kasih banyak.” pak Bakri tampak terdiam sejenak. “Saya, berhutang nyawa sama kamu.” pak Bakri menepuk-nepuk punggungku. 

Setelah hari panjang itu, aku memutuskan mampir ke kost Bayu. Laki-laki itu menyambutku dengan baik, ada sedikit camilan yang disuguhkan. 

“Tadi ada kejadian di hutan, Bay.”

Bayu menegakkan tubuhnya.“Hah? Kejadian apa?” 

Aku menceritakan semuanya kepada bayu, apa yang aku ketahui dan pahami tentang kejadian tadi. Belum lama aku kerja di sana sudah terjadi kecelakaan kerja. 

“Ah, gue jadi ingat. Beberapa waktu lalu sebenarnya juga ada kejadian bro. Ada yang hampir kena mesin pemotong kayu, dan untungnya masih selamat dia nya, tapi ya kelihatan trauma, kalo gak salah sih namanya pak Danu.”

Aku menggelengkan kepala. “Gila sih itu perusahaan, kita mau lapor sama bos kapan?” 

“Nanti kalau infonya udah valid, kita fokus nyari saksi aja, gue juga jadi penasaran nih dulunya ada kejadian kayak gitu atau enggak.”

“Kalo gitu, gue akan berusaha buat menjadikan pak Bakri sebagai saksi.” 

“Pak Anwar, satu divisi sama gue. Udah kerja lumayan lama sih, 6 tahunan. Beliau bisa tuh nanti jadi saksi.” 

Hari demi hari berlalu, aku berusaha untuk membangun hubungan baik dengan pak Bakri, sering berbincang-bincang. Bahkan sempat makan siang bersama, saat kondisi hujan, aku yang telah basah kuyup, pak Bakri dengan senang hati menawarkan aku untuk meneduh di rumahnya. 

Saat itulah, aku mulai memberanikan diri untuk menanyakan hal-hal tentang pabrik. Topik yang aku bangun dari dinginnya sikap karyawan yang ada di sana. Saat pertanyaan itu aku lontarkan, pak Bakri terlihat termenung dan diam cukup lama. 

“Sebenarnya kami gak ada apa-apa nak, yang pasti kami harus fokus pada pekerjaan. Kamu juga ingat sendiri kecelakaan kerja yang terakhir kali itu.” 

Aku mendengar jawaban itu, terdengar sangat masuk akal namun tetap ada celah yang mungkin bisa membuat pak Bakri berbicara yang sesungguhnya. 

“Tapi tetap saja pak, hubungan karyawan-karyawan gak seperti pada umumnya. Padahal waktu istirahat kita juga gak lagi kerja kan pak.”

Lagi-lagi aku melihat pak Bakri yang terdiam. Bahkan lebih lama dari sebelumnya. Beliau terdengar menghela napasnya. 

“Ada, satu hal yang gak boleh diceritakan sama siapapun nak. Tapi, kamu orang pertama yang membuat saya memberanikan diri.”

Aku merasa napas seperti tersendat. Jantungku terasa berdegup kencang. Apalagi melihat pak Bakri yang mulai serius. Aku berusaha untuk menyimak penjelasan pak Bakri sebaik mungkin.

“Kecelakaan kerja yang terjadi, gak hanya sekali dua kali nak. Satu tahun bisa ada banyak korban yang berjatuhan, sekitar 5 orang. Saya sangat menyadari itu nak. Karena hal itulah yang membuat kami fokus untuk bekerja.”

“Kenapa bapak gak keluar saja?” tanyaku penasaran. 

Pak Bakri menggeleng pelan dan menundukkan kepalanya. “Kami terikat dengan kontrak nak, jika kami memutuskan untuk keluar, ada harga yang harus dibayarkan.”

Aku melihat kejujuran dari mata pak Bakri, selama aku bekerja di sana beliau lah yang paling banyak membimbingku. Aku memutuskan untuk mengungkapkan niatku yang sebenarnya. 

“Mohon maaf pak, ada hal yang sebenarnya ingin saya sampaikan.”

“Ada apa nak?”

“Sebenarnya saya ingin bapak menjadi saksi, menceritakan semua yang bapak alami selama bekerja di perusahaan tersebut.”

Pak Bakri terlihat langsung menggelengkan kepalanya. “Enggak nak, saya gak bisa.”

“Bapak tidak perlu khawatir dengan keselamatan bapak. Orang yang menyuruh saya berjanji akan melindungi bapak dan menurut informasi yang saya dapatkan, orang yang menyuruh saya saat ini sedang mengumpulkan bukti untuk membongkar hal-hal yang berkaitan dengan perusahaan ini pak. Kami butuh bapak untuk menjadi saksi memperkuat hal ini.”

Pak Bakri tampak terdiam cukup lama. “Saya akan pikirkan lagi, tapi sejujurnya saya gak berani dengan resikonya nak.”

“Apa bapak ingin lebih banyak korban berjatuhan?”

Beliau dengan cepat menggelengkan kepalanya. “Tentu enggak, nak. Gak mungkin saya tega. Apa lagi, terakhir waktu kamu menyelamatkan saya, membuat saya berpikir bisa jadi korban kapan saja, nak.”

“Kalau begitu, bapak setuju untuk membantu saya dan ikut andil dalam hal ini?” 

Pak Bakri mengangguk pelan. “Akan saya usahakan, nak.”

Aku menyunggingkan senyuman, kemudian aku menyalami pak Bakri. “Terima kasih, pak. Terima kasih banyak.”





🕯





Setelah hari yang panjang. Aku beristirahat di tempat biasa, warung sederhana yang berdiri di dekat lahan besar milik perusahaan. Aku memesan kopi, memilih untuk menunggu pak Bakri. Hari itu aku belum bertemu dengan beliau.


“Selalu ada korban di sana, gimana sih perusahaannya.” 


Aku melihat ibu pemilik warteg mengeluhkan hal tersebut. Aku menebak kemungkinan ibu itu melihat korban dibawa atau memang ada karyawan yang menceritakan kejadian itu. 


“Tiap tahun juga ada aja korbannya. Dengar kabar kemarin gak?” 

“Kabar apa?”

“Itu korban terakhir kemarin udah meninggal.”

“Ya Allah, Innalillahi wa innailaihi Raji'un.”


Aku tersadar dari lamunan, layar handphone menyala disertai dering notifikasi pelan. Aku meraihnya. Pesan dari Bos. Aku membukanya. Sebuah foto dikirim dan saat aku mengerti, tak bisa kutahan senyuman itu. 

“Bos emang mantap …” gumamku. 

“Eh, nak Januar … kemana pak Bakri nya, biasanya bareng terus?” tanya Ibu warung, wanita yang mengenakan baju cokelat panjang serta rambut yang digelung. 

Aku mendongakkan kepala. “Ah, itu Bu, saya juga belum ketemu sebenarnya. Ini juga lagi nunggu beliau.” Aku mengangguk pelan sambil berusaha tersenyum. 

“Oalah, gitu toh …” 

Aku kembali menatap layar handphone, memutuskan untuk menghubungi pak Bakri saat itu. Belum lama, telepon dariku diangkat. Aku mendekatkannya ke telinga namun suara wanita yang aku dengar. 


“Halo Bu, pak Bakri nya ada?”


Ini suami saya lagi sakit … hari ini izin gak kerja dulu …


“Ya Allah Bu, titipin salam saya ke Pak Bakri nya, Nanti pulang kerja saya ke sana ya …”


Iya, nanti saya sampaikan, kalau mau mampir silahkan. 


“Terima kasih Bu.”


Sepulangnya kerja tanpa menunggu lama aku langsung mampir ke rumah pak Bakri tanpa menunggu pulang ke kost terlebih dahulu. Di depan rumahnya, suasana tampak sepi dan tenang. Aku mengetuk pintu rumah pelan. 

Sekali, dua kali aku mengetuk pintu, tak ada jawaban. Aku menunggu cukup lama sampai pada akhirnya ada tetangganya yang memberitahukan bahwa pak Bakri serta istrinya tidak berada di rumah. 

Wanita itu mengatakan bahwa pak Bakri serta istrinya sedang pergi ke rumah sakit. Aku menanyakan kembali letak rumah sakit tersebut namun ia tak mengetahuinya. 

Aku memutuskan untuk langsung pulang saja, namun pikiranku tak bisa berhenti, terbayang bagaimana keadaan pak Bakri sekarang. 

Belum sempat aku masuk, seseorang telah menyambutku di depan kost. Bayu. 

“Kenapa baru sampai, Bro?”

“Itu, pak Bakri sakit. Mau jenguk beliau tapi udah dibawa ke rumah sakit. Rencana mau nunjukin foto yang bos kasih.” 

“Lo udah Nemu orang yang bisa dijadiin saksi?” 

Bayu mengangguk. “Iya bro, ada yang bersedia. Gue juga udah tunjukkin foto-fotonya dari Bos. Dia mau, katanya dulu ayahnya pernah kerja di sana, tapi ya gitu ayahnya meninggal karena kecelakaan kerja. Dia masuk ke sana pengen tahu seburuk apa prosedur perusahaannya sampai sering terjadi kecelakaan kerja.”

“Terus gimana, dia cerita gak?”

“Iya bro, katanya lingkungan di sana toxic, semuanya malah diputarbalikkan faktanya. Katanya karyawan yang gak mematuhi prosedur makanya bisa kejadian kecelakaan kerja. Gak taat aturan katanya. Gila gak tuh, dia cerita katanya ayahnya selalu patuh sama prosedur perusahaan. Emang udah gak benar ini.”

“Namanya siapa.”

“Ari.” 

Beberapa hari berlalu. Sudah lama pak Bakri tidak berangkat kerja. Aku selalu mengunjungi rumahnya, berusaha menghubunginya lewat telepon namun tak pernah diangkat. 

Hari itu libur, aku kembali menghubunginya dan teleponnya diangkat. Namun aku mendengar sesuatu yang aneh, terdengar isak tangis dari seberang. Jantungku berdegup kencang, pikiranku mulai kacau. 


“Halo?” 


Suami saya meninggal …


Aku terpaku. Bayangan pak Bakri kembali terngiang-ngiang di kepalaku. Suaranya, tangannya yang selalu menepuk bahuku. Tanpa sadar air mata telah membasahi. 

Tanpa menunggu lagi, aku berlari, mencari kendaraan umum yang bisa membawaku kembali ke rumah pak Bakri. 


“Ya Allah, Pak …” 


Sesampainya di sana, bendera kuning telah terpasang, kursi-kursi sedang ditata. Orang-orang banyak yang berkumpul. Bisik-bisik terdengar. 


Padahal selama ini pak Bakri kelihatan jarang sakit. 

Sakit apa ya beliau. 

Kasihan istrinya, kelihatan sayang banget sama pak Bakri. 


Mataku tertuju pada bapak-bapak yang baru selesai menata kursi dan duduk diantara kursi-kursi itu. 

“Pak …”

“Eh, iya nak. Silahkan duduk.” Laki-laki itu menepuk kursi di sampingnya. 

“Kamu orang yang sering ke rumah pak Bakri ya ..”

Aku mengangguk pelan. “Iya pak. Kalau boleh tahu, apa yang terjadi pak? Bilang sama saya kalau yang meninggal bukan beliau …” 

“Tapi, yang meninggal memang beliau, nak. Katanya beliau sakit, tiba-tiba saja muntah darah, terus dibawa ke rumah sakit, udah dirawat berhari-hari tapi keadaannya gak membaik.”

Aku terdiam, menunduk, menyembunyikan wajahku di balik kedua tanganku. “Ya Allah, pak ...”

Hari itu, rasanya pikiranku kosong. Terutama saat mendengar sirine ambulans. Aku melihat jenazahnya. Hatiku kembali terasa sakit saat mengingat janjiku untuk membawa pak Bakri keluar dari perusahaan itu, namun takdir tak membiarkannya. 

Hari-hari berlalu. Hingga akhirnya tiba saatnya aku keluar dari perusahaan. Bos benar-benar membawaku dan Bayu keluar dari perusahaan itu. Satu-satunya orang yang bisa dijadikan saksi adalah Ari, namun terkadang aku juga masih mengunjungi makam pak Bakri. 

Aku mendengar bagaimana cerita Bayu mengenai Ari yang memasuki perusahaan tersebut dengan alasan kematian ayahnya karena kasus yang sama, kecelakaan kerja. Namun pada akhirnya yang Ari temukan hanyalah kejadian janggal. 

Bayu mengatakan bahwa ia berhasil membujuk Ari karena mereka memiliki misi yang sama. Aku terkadang masih terngiang-ngiang dengan cerita Bayu waktu itu. 


“Bro, ada karyawan yang kena alat mesin pabrik. Dan ya, karyawan itu meninggal. Perusahaan menyuap kita pakai uang buat tutup mulut tentang kejadian ini.”


Hari ini aku mendengar berita tersebar di sosial media dan menjadi trending topik. Aku juga membacanya, aku mengerti mengapa cerita tersebut dibicarakan, ini karena bukti-bukti yang turut disertakan di dalamnya. 

Berbagai spekulasi mulai bermunculan mengenai identitas perusahaan yang dimaksud. Aku mendapatkan telepon dari Bos, kami membicarakan tentang pertemuan, Bos meminta untuk mempertemukannya dengan Ari selain itu ia juga memintaku untuk menentukan tempat pertemuannya. Aku memilih warung biasa, tempat yang aku habiskan saat istirahat tiba. 

Dalam pertemuan itu Bos mengatakan bahwa waktu dekat ini, kami akan mendatangi podcast untuk kesaksian. Podcast tersebut dari channel yang sama dimana berita tersebar. 



TAMAT



Terima kasih telah membaca Spesial Chapter, Lanjutkan kembali menikmati novel Ghost : A Mystery !!











 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Last Part, Cerpen Timer Waktu

Cerpen Timer Waktu, Sang Pemberi Makna

Part 4 Cerpen Timer Waktu