Part 3 Cerpen Timer Waktu

 PART 3 Cerpen Timer Waktu 




Beberapa waktu berlalu hingga Nona lulus dari jenjang pendidikan SMP. Di dalam mobil, Nona menyandarkan kepalanya. Matanya menatap pohon-pohon tinggi, membuat suasana lebih tenang. Jalanan menjadi tak sepanas sebelumnya. Nona sengaja membuka sedikit kaca jendela mobil, membiarkan udara itu masuk. 

Perjalanan itu membawanya ke sebuah rumah yang ada di tepi jalan. Rumah yang tampak begitu besar bagi Nona. “Itu, rumah kita Pa …” 

Laki-laki itu tersenyum dan menoleh ke samping kirinya. “Iya Liona. Itu rumah kita.” 

Gadis yang kini dipanggil Liona tersenyum tipis. “Aku berharap bisa ketemu lagi sama Joy,” katanya dalam hati, senyuman gadis itu terlihat manis. 

Liona berjalan mengelilingi rumah besar yang didominasi oleh warna cream itu. Interior rumah yang tampak mewah dan klasik. Ia melihat pigura yang terpajang di tiap sisi kosong dinding. Ia berdiri di depan pigura yang paling besar, menampakkan sepasang suami istri dengan seorang anak yang ada di pangkuan wanita di foto itu. Liona tersenyum tipis. “Ini, Ibu …” Dadanya terasa sesak ketika harus menerima kenyataan bahwa seseorang yang sebenarnya ia rindukan kehadirannya tak akan pernah bisa ia temui. 

Suatu hari ia berjalan-jalan melewati jalan pedesaan yang akan membawanya ke jalan raya. Ia berjalan di tepinya, dibawah rimbunnya pepohonan. Matanya menangkap sesuatu di seberang jalan. Seorang anak perempuan yang menangis terduduk, di sampingnya ada sebuah sepeda dan ada anak laki-laki yang berjalan menjauhinya. 

Liona menyebrangi jalan, menuju anak kecil itu. Ia berjongkok untuk menyamakan posisinya dengan anak itu. “Hei … jangan nangis. Ini kakak punya permen mau gak?” 

Anak itu mendongakkan kepalanya. Mata Liona melebar saat melihat wajah anak kecil itu. Wajah yang sangat familiar. Wajah yang ia cari selama ini. 


“Joy …” 


Tangisan anak itu mulai mereda. Anak itu sedikit memiringkan kepalanya. “Kakak tau nama aku?” 

“Terima dulu permennya. Jangan nangis ya.” 

Anak itu mengangguk pelan. Ia meraih permen itu dan langsung memakannya. Tampak ukiran tipis di wajahnya. Seseorang keluar dari gerbang tinggi itu. “Joy.” Wanita itu perlahan mendekati putrinya dan mengusap lembut puncak kepalanya. 

Wanita itu terdiam sejenak menatap ke arah Liona. “Kamu … dulu yang sering main sama Joy di panti asuhan.” 

Liona mengangguk canggung. “I-iya Bu. Ini saya.” 

Wanita itu tersenyum. “Panggil aja, Tante Joanna.” 

Liona mengangguk pelan. “Iya, Tante.”


Joanna meminta Liona untuk masuk ke dalam rumah. Liona mengangguk pelan. Di dalam rumah, Liona menceritakan mengapa ia berada disini dan semua hal yang terjadi termasuk nama aslinya. 

Pada suatu pagi, saat Liona memasuki halaman rumah Joy. Ia tanpa sengaja melihat pertengkaran antara Joy dan anak laki-laki yang kemarin ia lihat. Anak itu tampak menggunakan nada tingginya pada Joy. Saat anak laki-laki itu hendak mendorong Joy, Liona terlebih dahulu memegangi tangannya. “Jangan jadi anak nakal ya!” 

Raut wajah anak itu terlihat semakin kesal. Ia menyentakkan tangannya dan pergi dari sana. Sebuah pelukan tiba-tiba ia rasakan. Liona menundukkan kepalanya, menatap ke arah Joy yang kini tengah memeluknya. Liona mengusap lembut puncak kepala anak yang berusia sekitar 10 tahun itu. 


“Makasih, Kak Ona …” 


Liona tersenyum, ia berjongkok dan menatap lekat wajah anak itu. “Kakak punya hadiah untuk kamu …” 

Wajahnya kembali ceria, menampakkan senyuman yang kini menghiasi wajahnya. Liona kemudian mengeluarkan sesuatu di balik tas yang sedari tadi ada di punggungnya. Sebuah boneka ia keluarkan. Boneka yang berbentuk seperti singa. Liona mengulurkan boneka itu, Joy menerimanya dan langsung memeluknya erat. Anak perempuan itu kembali berbicara. “Kakak gak pernah kasih aku hadiah.” 

“Tadi itu kakak kamu?” 

Joy menjawabnya dengan anggukan pelan. Liona menanggapinya dengan senyuman. “Sekarang ada kakak.” 

Joy tersenyum, Liona dapat melihat ketulusan melalui sorot matanya. 



โดต



Saat liburan sekolah telah usai. Liona mulai belajar untuk beradaptasi di sekolah barunya. Ini adalah kali pertama saat ia diantar ke sekolah oleh Ayahnya. Liona masih tidak percaya bahwa ia kini telah duduk di bangku kelas 1 SMA. Waktu sangatlah cepat berlalu. 

Dua bulan berlalu, hari itu Liona menunggu di depan gerbang sekolahnya. Menantikan mobil ayahnya yang tak kunjung datang. 2 jam ia habiskan untuk menunggu ayahnya hingga Liona memutuskan pulang menaiki kendaraan umum. Ia turun dari kendaraan umum, dari kejauhan ia melihat dua orang laki-laki berdiri di depan gerbang rumahnya. 


“Ada apa pak?” tanya Liona yang berdiri di belakang mereka. Kedua orang itu seketika membalikkan badannya. 

“Saya cari keluarga dari pak Yanuar,” kata salah satunya. 

“Saya putrinya.”


Mereka mengatakan sebuah kabar yang mampu membuat Liona terdiam. Kabar kecelakaan ayahnya, Liona pergi mengikuti kedua laki-laki itu. Ke sebuah rumah sakit, dimana ayahnya berada. Ia menatap ke arah ruang ICU, menatap kondisi laki-laki yang terbaring tak berdaya. Suara bip teratur yang mulanya mengisi ruangan itu, kini mulai melemah. Makin lama, jedanya kian panjang, Sampai akhirnya- Nada panjang itu menggema, menusuk sunyi. Monitor jantung yang semula memancarkan garis-garis naik turun, kini menampilkan satu garis lurus berwarna hijau.

Degup jantung Liona seolah berpacu dengan waktu. Matanya melebar menyadari apa yang terjadi. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Tangannya gemetar, kakinya seolah tak lagi mampu menopangnya. “Papa …” lirihnya dengan gemetar. 

Ia segera mendorong pintu ruang ICU, bergegas menghampiri ayahnya, dokter yang menangani perlahan menyingkir. Liona menggoyang-goyangkan tubuh ayahnya. Dadanya terasa sesak, belum lama ia menemukan sebuah kebahagiaan. Merasakan bagaimana kasih sayang ayahnya. Setetes demi setetes air mata jatuh. Ia memeluk tubuh yang telah kaku itu. Tak ada satupun kata yang bisa keluar dari mulutnya. 

Di sebuah tempat dipenuhi oleh gundukan tanah, tempat dimana mereka akan berakhir meninggalkan dunia yang fana. Di sana sekumpulan orang berbaju hitam berada mengelilingi gundukan tanah baru. Di sana seorang gadis menangis memeluk nisan yang baru terpasang. Di sisi lain seorang anak gadis yang lebih muda darinya mengelus pelan punggungnya. 

“Kak Liona masih punya Joy …” 

Gadis yang dipanggil Liona itu mengalihkan pandangannya ke samping kanannya. “Joy …” 



Menuju part 4 …

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Last Part, Cerpen Timer Waktu

Cerpen Timer Waktu, Sang Pemberi Makna

Part 2 Cerpen Timer Waktu, Sang Pemberi Makna